3 Hal Ini Baru Indonesia

Masih Indonesiakah kita
setelah sekian banyak jatuh bangun
setelah sekian banyak tertimpa dan tertempa
setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk…

Demikianlah sepenggal bait puisi yang dibawakan oleh Bapak Ma’ruf Cahyono, SH. MH (Sekjen MPR RI). Kamis (10/05) seminggu yang lalu dalam acara “WARGA NET (NETIZEN) BALI NGOBROL BARENG MPR RI”.

Bait awal ini, seakan membuat kita mempertanyakan apakah benar Indonesia masih Indonesia yang kita kenal? Mungkin bisa menjadi renungan kita masing-masing.

Terlepas dari peristiwa yang menimpa Indonesia belakangan ini yang datang secara bertubi-tubi. Secara pribadi, saya merasa dominan akan sepakat kecintaan akan negeri ini semakin bertambah.

Berikut adalah 3 hal penyebab Ini Baru Indonesia Banget

1. Ratusan Warga Surabaya Berbondong-bondong Membantu
Di balik peristiwa pemboman yang terjadi di wilayah Surabaya di akhir pekan lalu. Ada cerita yang sangat menarik terjadi. Ratusan warga surabaya berbondong-bondong menuju rumah sakit tempat korban dirawat untuk mendonorkan darah mereka. Kejadian ini menandakan bahwa solidaritas (dibaca: kesatuan) antara warga masih sangat kuat.

Sumber : CCN Indonesia

2. Atlet Wanita Panjat Tebing Juara Dunia

Atlet wanita Indonesia Arie Susanti menorehkan prestasi yang sangat membanggakan di ajang kejuaraan panjat tebing dunia yang diselenggarakan di negara China. Di babak final Arie Susanti harus melawan Elena Timofeeva atlet berkebangsaan Rusia. Dalam adu kecepatan ini akhirnya Elena Timofeeva mengaku kalah dan menjadikan Arie Susanti menjadi pemegang mendali emas.

Sumber : Tempo

3. Sosialisasi 4 Pilar MPR RI

Dari tahun 2015 MPR RI menginisiasi gerakan 4 Pilar Kebangsaan yang kemudian belakangan menjadi 4 Pilar MPR RI. Gerakan ini adalah gerakan yang bertujuan untuk lebih mensosialisasikan 4 pilar tersebut. 4 pilar tersebut antara lain Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Harapannya, 4 Pilar ini tidak hanya dihafalkan namun juga menjadi nafasnya warga negara Indonesia tercinta ini.
Bertepatan dengan hari Kenaikan Isa Al Masih kamis 10 Mei 2018 lalu MPR RI mengadakan sosialisasi dihadapan 55 WARGA NET (Netizen) Bali. Acara ini dibuka langsung oleh Bapak Ma’ruf Cahyono, SH. MH (Sekjen MPR RI). Beliau juga mengingatkan untuk tetap menjaga dan menjadikan 4 Pilar tersebut sebagai pedoman hidup. Disela-sela acara tersebut, para peserta juga melakukan diskusi langsung dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan bagaimana cara mengimplementasikan 4 pilar tersebut di kehidupan nyata. Tidak lupa MPR RI dalam hal ini mengajak peserta yang hadir untuk menjadi agen pemersatu bangsa.

Sebenarnya masih banyak lagi yang membuat kita berkata Ini Baru Indonesia dan membuat kita bangga menjadi warga Indonesia.

Berhentilah Malas, Mulailah Bekerja

Sejauh mana kontribusimu selama ini terhadap negeri ini?

Boro-boro buat negeri ini, ngurus diri sendiri aja masih belum becus. Apa-apa aja harus moody dulu baru bisa dikerjakan. Ya… moody. Suatu keadaan kalau perasaan sedang senang-senangnya baru mau dikerjakan.

Sebelum ngelantur jauh lagi dan meluapkan semua keluhan diri. Coba pikirkan, kita diberi waktu 24 jam sehari sama semua tanpa terkecuali. Tapi kenapa ada yang bisa lebih kaya, lebih bahagia atau lebih yang lainnya daripada yang kita alami?

Mungkin saja, karena terlalu sibuknya kita ngebandingin diri kita dengan orang lain malah kita lupa untuk mulai bergerak mengejar mimpi kita. Memang rumput tetangga lebih hijau. Tapi itu karena kitanya yang lupa nyiramin rumput kita sendiri.

Seandainya, kita semua bisa punya keberanian, kemauan dan kegigihan untuk menghancurkan kemalasan kita. Saya yakin dan percaya kita bisa mengubah dunia. Atau ngga usah jauh-jauh dululah…

Mulai kita bisa memantaskan diri saja dulu. Menjadi pribadi yang berpegang teguh terhadap kemandirian, menjaga nama baik diri sendiri dan perilaku. Niscaya kita bisa menjadi orang yang bisa dibanggakan.

Selanjutnya, saat itu kita bisa juga berkontribusi untuk negeri ini. Loh? Kenapa harus kontribusi?

Coba deh bayangin, kita bisa menjadi bagian penting untuk perubahan lebih baik bagi Indonesia. Hingga akhirnya kita bisa bangga mengatakan Ini baru Indonesia.

Maka dari itu, berhentilah malas mulailah bekerja.

#inibaruindonesia

Berani Totalitas

Kadangkala aku merasa hidup ini segini-segini aja. Malah hampir selalu mikirnya MADESU (MASA DEPAN SURAM). Yah… biasa kalau kita sudah berada di titik terjenuh. Hidup seperti ngga ada artinya.

Ya itu dulu, semenjak aku datang ke klinik ….. hidupku jadi berubah.

Stop!!! Sebentar-sebentar kok malah jadi kaya iklan yang dulu penah viral sih? Back to the topic deh.

Saat pagi tadi ayah dan anak sedang berbincang seperti biasa di teras rumah sambil memandangi awan yang mendung. (agak di dramatisir dikit) Tetiba ayah berkata hal yang menurutku sudah sering kudengar di berbagai acara seminar yang aku hadiri.

“Dik, kamu harus lebih totalitas lagi!” itulah kalimat pertama di pagi hari yang membuat kembali aku berpikir sendiri apakah kontribusi diriku terhadap diri sendiri sebegitu kurangnya? Seharian pertanyaan itu membayangiku sampai aku mendapat jawaban bahwa memang benar aku belum cukup total terhadap diriku sendiri. Bersyukurnya, ini masih bulan Januari. jadi belum telat-telat amat untuk membenahi diriku. Masih ada 11 bulan lagi yang harus bisa aku lalui dengan penuh ketotalitasanku.

Sedikit menjelaskan tentang totalitas. Bisa jadi, apa yang akan aku katakan ini menjadi benang merah dari 2 tulisanku yang terakhir. Faktanya juga, semenjak aku lulus SMK. Aku merasa memang belum total menjalani hidupku. Rasanya aku hidup tanpa makna. Hanya saja, setelah aku pikir-pikir kembali. Tidak semua yang aku katakan itu sepenuhnya benar. Ada kok di suatu ketika aku mulai menemukan makna hidupku. Di saat itu pula aku bersemangat sekali. Namun entah kenapa masa itu tidak berjalan lama.

Dengan apa yang dikatakan oleh Ayah tadi pagi membuat diri ini kembali tersadar setelah tidur panjang. Aku harus mulai mencari hasratku kembali. Hal yang membuatku bahagia. Sehingga pada akhirnya aku bisa totalitas dalam hidupku. Seperti gambar terakhir di tulisan ”Nulis Aja Dulu

disana dikatakan sukses sejati itu akan terjadi apabila kamu sudah menemukan makna di setiap hal yang kamu lakukan.

Bisa jadi ini adalah evaluasiku di bulan Januari ini. aku harus lebih berani lagi untuk totalitas. Totalitas disini berarti.

  • Fokus 1 tugas dalam satu waktu
  • Menyelesaikan apa yang telah dimulai
  • Berani memberikan lebih daripada yang diharapkan dan
  • Mulai mencintai diri sendiri dengan berdisiplin

Hidup itu hanya sekali bung! ngapain kita sia-siakan? itu menjadi kalimat penyemangatku sekarang. Terakhir, setiap pagi aku mulai membiasakan diri untuk menanyakan diriku sendiri 3 pertanyaan sederhana sebelum memulai aktifitas.

  1. Hal apa saja yang aku syukuri dalam hidupku ini?
  2. Apa yang bisa aku lakukan hari ini untuk membuat hidupku bermakna?
  3. Seberapa total aku ingin jalani hari ini?

Mudah-mudahan 3 pertanyaan di atas membuatku bisa merubah diri. Tentunya juga aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku tercinta. Mereka adalah hal terindah yang aku miliki saat ini. Karena merekalah aku bisa seperti ini.

Mencoba Untuk Disiplin

Wehh… Sudah jam segini tapi belum up juga tulisannya. Katanya mau rajin nulis lagi? Katanya pengen ningkatin kemampuan nulis lagi? Ah cuman katanya doang. Nyatanya, nol besar…

Begitulah kenyataan tidak semanis yang dibayangkan.  Udah nyusun rapi. Setiap minggu minimal harus ada 3 tulisan yang dipost. Nah hari ini adalah hari pertama di minggu ini tulisan sudah harus up.

Dari tadi kebingungan nyari ide mau ngebahas apa. Untung akhirnya jadi nulis. Ya nulis ini… Ya ini… Tentang curhatan hampir ngga ngepost hari ini.

Eitss… Sebenarnya ngga cuman curhat tentang ini saja. Aku pengen ngebahas tentang hal yang hampir serupa. Kebayang ngga? Kalau seandainya kamu sudah ngerencanain sesuatu dengan matang tapi akhirnya kandas karena ngga disiplin. Disiplin? Ya benar disiplin. Kita tidak akan bisa menyelesaikan tugas kita tepat waktu bila kita tidak disiplin.

Aku pengen banget ngebahas tentang disiplin. Karena aku juga lagi mencoba untuk disiplin. Rasanya memang ngga enak banget kalau disiplin. Berita baiknya, disanalah sebenarnya letak menariknya. Ketika kita tidak nyaman melakukan hal yang seharusnya kita lakukan. Itu berarti kita sedang “berubah”. Bukan berubah seperti power ranger tapi berubah dari segi kemampuan. Jadi seperti di sekolah menghadapi ujian. Kalau kita lulus dari ujian kita jadi naik kelas.

Sama halnya, kalau kita benar-benar berdisiplin. Apa yang awalnya kita rasa sulit. Rasanya akan menjadi sangat mudah nantinya.

Faktanya, apa yang aku bicarakan dari tadi ini sebenarnya sudah ngga ada alurnya. Kamu ngerasa ngga? Seperti yang aku bilang tadi, aku belum ada bahan untuk dibicarakan. Sepertinya aku harus lebih peka lagi dengan sekelilingku. Agar ada bahan yang bisa aku angkat di tulisan berikutnya.

Biar ngga ngaco kaya gini. Bener ngga? Tapi malah anehnya, aku merasa senang. Setidaknya aku sudah berusaha untuk mendisiplinkan diriku untuk membuat post ini. Cuman yang bisa aku bilang tulisan ini bukan benar-benar membahas tentang disiplin ya? Nanti aku akan bahas di tulisanku berikutnya tentang apa itu disiplin sebenarnya. Rasanya disana nanti baru berat bahasannya.

Anggap saja aku lagi latihan sebelum menuju kesana. Hitung-hitung sambil masih belajar merangkai kata. Hi Hi….

Seperti biasa sebelum aku akhiri tulisan ini aku ingin sisipin kata-kata yang menginspirasi diriku tadi sore.

“Jika kamu tidak memberanikan diri untuk mencoba. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana hasil sebenarnya.”

Nulis Aja Dulu

1 tahun lebih blog ini aku telantarkan. Padahal niatan untuk menulis hampir tidak terbendung. Sayangnya, karena alasan “kesempurnaan” niatan itu menjadi tak berarti. Aku awalnya bingung blog ini akan aku bawakan seperti apa? Atau mau membahas tentang apa? Aku mulai kehilangan jati diriku. Tidaaakkk…… (narasi awal diiring dengan musikalisasi dramatis)

Udah sesi dramatisnya.

Seharusnya ini adalah tulisan ringan yang menjelaskan kenapa aku akhirnya menulis lagi.

Ya, akhirnya aku menulis lagi. Aku memberanikan diri untuk keluar ke zona nyamanku. Banyak hal yang telah aku lalui. Rasanya jadi ngga adil kalau aku hanya menyimpan pengalamanku sendiri. Untuk itu aku akhirnya memutuskan untuk menulis kembali.

Kualitas menulisku juga rasanya mulai menurun. Bisa jadi ini efek samping dari aku jarang menulis panjang. Malah keseringan mengupdate status singkat di media sosial. Padahal bisa dibilang dulunya aku suka menulis dan sebenarnya, blog ini pun dulunya isinya tulisan-tulisan lebay. Cuman karena aku lupa memperpanjang Hosting & Domain He.. He… Akhirnya semua kontennya jadi hilang. Sedih memang, cuman apa boleh buat.

Pasti ada yang bertanya gini, “Kenapa lama banget baru akhirnya menulis lagi?” Selain alasan-alasan yang sudah aku sampaikan di atas. Ada alasan lain yang bikin kenapa ini bisa jadi lama. Jujur aku katakan, aku terlalu banyak berandai-andai dan penganut akut tar sok (sebentar lagi, atau besok aja. Sebentar lagi hilang kok). Berandai-andainya gimana? Ya seperti tulisan di awal. Aku malah sibuk mikirin tema yang ingin aku bawakan blog ini. Niatnya sih biar apa yang aku tulis jadi terarah. Kenyataannya, terlalu banyak perencanaan malah ngga jalan-jalan. Makanya bisa sampai sangat molor gini.

Hingga aku ketemu di satu titik muncullah ide judul artikel ini. Nulis aja dulu masalah apa yang terjadi nanti bisa sambil jalan. (Ku berharap sih gitu).

Confucius seorang filsuf berkebangsaan Tiongkok pernah berkata “Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama.” Begitu juga melalui artikel pertama ini (yang kesekian kalinya), aku bisa menuju seribu milku nanti. 

Demikian juga dengan harapanku dengan blog ini. Ini adalah saranaku untuk melatih kemampuanku kembali sebelum aku benar-benar memulai proyek rahasiaku.

Proyek apa itu? To be continued….

Sebagai penutup aku ingin share sebuah gambar yang mungkin berguna buat kamu. Gambar ini aku dapat tadi pagi dari videonya Tom Shillue.

Inti dari videonya sendiri adalah kita tak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain. Cukuplah bandingkan diri kita dengan diri kita yang sebelumnya. Dan pada akhirnya kita bisa mencapai arti sukses yang sesungguhnya. Ya Sukses sesungguhnya adalah dimana kita bisa menemukan makna pada setiap hal yang kita lakukan.